MAGANG “KESADARAN MEMBERI NIKMAT”

SMK 6 YOGYAKARTA

MAGANG “KESADARAN MEMBERI NIKMAT”
Oleh: Muhammad Maulana/1600031032
(Mahasiswa Semester 4 PAI UAD)

Magang adalah suatu kegiatan yang melakukan observasi, menelaah RPP, dan prakter mengajar di sekolah yang sudah ditetapkan. Adapun tujuan magang yaitu membangun jati diri pendidik, memantapkan kompetensi akademik dan memantapkan kempuan awal calon guru. Pada tahap magang dasar mahasiswa peserta magang melakukan pengamatan budaya sekolah, pengamatan untuk membangun kompetensi dasar pedagogik, mengamati karakter peserta didik dan mengamati proses pembelajaran. Sedangkan pada tahap magang lanjut mahasiswa peserta magang melakukan penelaahan pada perangkat pembelajaran dan melakukan pengembangan perangkat pembelajaran.

Penerjunan mahasiswa peserta magang dimulai pada tanggal 7 Agustus 2018, pukul 07.00 WIB di SMK 6 Yogyakarta. Dosen pembimbing magang bertemu dengan pimpinan sekolah dengan maksud menyambung silahturahim dan menitipkan atau menugaskan mahasiswa peserta magang di sekolah tersebut. Para pimpinan sekolah pun menerima dengan senang hati dan memberi info terkait budaya di sekolah seperti jam masuk dan jam pulang sekolah. Kemudian salah seorang dari pimpinan mengantarkan mahasiswa peserta magang ke tempat dimana mereka berkumpul, seperti ruang guru. Kemudian mahasiswa peserta magang (MPM) menemui guru pembimbing magang (GPM) masing-masing. Memasuki ruang guru saya melihat guru-guru disana terlihat ramah, saling senyum dan menyapa, sesekali guru-guru juga menanyai nama dan berasal dari daerah mana, lalu saya mulai komunikasi dengan GPM saya, nama beliau Hamidah Triwinarsih, saya memanggilnya Buk Hamidah. Setelah berkenalan, kami mulai merencanakan observasi ke ruang kelas. Kebetulan pada hari itu pukul 14.00 WIB ada jadwal mengajar di kelas bordir. Sembari menunggu sampai pukul 2 siang, saya mengamati beberapa kegiatan siswa seperti aktifitas siswa di lapangan, kegiatan siswa di kelas dan mengamati karakteristik siswa saat di luar kelas. Dan saya juga mengamati arsitektur sekolah, bangunan yang agak tua. Menurut sejarahnya, SMK 6 Yogyakarta ini berdiri sebelum 1946 dengan nama SGKP (Sekolah Guru Kepandaian Putri) dan pada tersebut pula sekolah ini pindah dari jakarta ke Yogyakarta karena Ibukota Indonesia pindah Yogyakarta di jalan Hayam Wuruk No. 11. Dan pada tahun 1971 sekolah ini menempati gedung di jalan kenari 2 kemudian ke jalan kenari 4.

Setelah saya menjelajahi sekolah, mata saya tertuju pada profil sekolah yang terpajang di depan ruang guru sambil menunggu buk Hamidah mengajar ke kelas Bordir. Di papan profil itu tertera visi & misi dan motto sekolah tersebut. Ada yang membuat saya tertarik, di visinya yang berbunyi “Menjadi SMK penghasil tamatan yang beriman, bertaqwa, berbasis budaya, berwawasan lingkungan dan unggul di ASEAN”. Dalam pikiran saya, sekolah ini benar-benar mewujudkan visinya dan memiliki target yang tidak hanya berbasis nasional, tetapi basis internasional. Kemudian, buk Hamidah menemui saya yang sudah menunggu di depan ruang guru, kami menuju kelas bordir. Buk Hamidah memulai kegiatan belajar dengan salam dan tadarus Al-quran, siswa-siswa antusias membaca ayat suci itu, tak ada yang diam, semua membaca Al-quran. Setelah membaca Al-quran, buk Hamidah memulai kegiatan belajar. Saat itu kebetulan membahas tentang berlomba-lomba berbuat kebaikan. Beliau memaparkan dalil melalui proyektor, kemudian mencoba siswa membuat siswa untuk aktif di dalam kelas, dengan cara maju satu persatu ke depan dan menjawab pertanyaan yang diajukan buk Hamidah. Yang membuat saya kaget, siswa yang duduk paling belakang pun turut aktif untuk menjawab pertanyaan dari buk Hamidah. Setelah lamanya mengamati cara Buk Hamidah mengajar, azan ashar pun mengumandang, kelas di jeda dan siswa diwajibkan untuk shalat berjamaah di mushalla. Kemudian kembali ke kelas masing-masing dan mengakhiri kelas dengan doa setelah itu para siswa piket membersihkan kelas dan mereka pun pulang ke rumah masing-masing.

Ada beberapa hal unik yang saya dapati di SMK 6 Yogyakarta ini, salah satunya mereka memiliki kesadaran dalam menuntut ilmu dan gurunya senang memberi senyum kepada sesama. Ketika manusia memiliki kesadaran dalam mencari ilmu dia akan antusias mencarinya lagi dan lagi.  Dan ketika sesama sudah senang memberi dan berbuat baik, maka kebaikan itu pula yang akan mengelilingi manusia itu sendiri. Dan sekolah ini akan terus lestari apabila banyak kebaikan yang mengitarinya

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *